Tidak terasa masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan
Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa saat lagi, tepatnya 20 Oktober 2017,
akan memasuki usia tiga tahun. Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi)
mengaku merasakan waktu tiga tahun pemerintahannya berlalu begitu cepat
karena terbawa ritme kerja yang tidak pernah mengenal waktu.
“Kalau orang bilang cepat banget, sangat cepat sekali, apalagi kita
apa, terbawa arus kerja yang apa ya, yang enggak kenal waktu semuanya,
tahu-tahu sudah tiga tahun,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam
wawancara khusus dengan LKBN Antara menyambut tiga tahun Pemerintahan
Jokowi-JK di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (16/10).
Ritme kerja Presiden Jokowi memang begitu padat dengan kerapnya
melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah untuk meninjau langsung
jalannya proyek-proyek infrastruktur di samping untuk memastikan
sejumlah program kerja berjalan dan diterapkan sesuai target dan
sasaran.
Dalam tiga tahun, Presiden juga merasakan mulai melihat sejumlah
proyek infrastruktur mulai mendekati rampung bahkan keseluruhan program
dalam tiga tahun pemerintahannya diyakininya sudah akan mencapai 60
persen atau dua pertiga dari target.
“Ya kalau melihat, kalau melihat sisi kayak infrastruktur, itu ya
sudah mendekati ke-60 (persen) nanti akan kelihatan ya akhir tahun ini
berapa jalan yang sudah selesai atau paling kelihatan sekali ya tahun
depan akan kelihatan sekali,” kata Presiden.
Di tahun ini sebagai tahun percepatan, menurut Presiden, proses yang
telah berjalan sejatinya untuk mengubah paradigma pembangunan yang
semula cenderung Jawa Sentris menjadi Indonesia Sentris.
Ia mencontohkan proyek infrastruktur yang tersebar banyak di berbagai
daerah misalnya di Kalimantan ada 24 proyek infrastruktur, di Sulawesi
ada 27, kemudian di Maluku dan Papua ada sekitar 13 proyek baik berupa
bendungan, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, dan berbagai proyek
lain.
Presiden Jokowi meyakini proyek-proyek itu baru akan terlihat dan
dirasakan hasilnya terutama pada tahun depan yang sekaligus berarti
pemerataan pembangunan mulai terjadi. “Kelihatan sekali akan tahun depan
artinya pemerataan pembangunan akan mulai kelihatan, mungkin tahun
depan ya 80 persen,” ujarnya.
Pembebasan Lahan dan Regulasi
Mengenai hambatan yang paling dirasakan, menurut Presiden Jokowi,
masih seputar persoalan di lapangan termasuk masalah pembebasan lahan
meskipun tidak sebanyak pada tahun pertama.
“Kedua terlalu banyaknya regulasi terlalu banyak peraturan entah UU,
entah PP, entah Perpres, entah Permen, entah Perda, entah Pergub, entah
Perwali, entah Perbupati itu yang ruwet sehingga birokrasi kita tidak
bisa bergerak cepat,” ungkap Presiden.
Peraturan itu dinilai Presiden ada yang tumpah tindih dan lain-lain,
padahal pada intinya Presiden ingin agar regulasi justru bisa
mempercepat dan mempermudah orang untuk melakukan sesuatu, cepat
memutuskan, dan cepat bertindak.
“Karena perubahan global kan cepat sekali kalau kita tidak bisa
mengikuti perubahan seperti itu gara-gara peraturan yang kita buat
sendiri kan lucu sekali,” pungkas Presiden.
Dukung Penguatan KPK
Meskipun tidak semua pihak suka dengan pekerjaan pemberantasan
korupsi yang dilakukan penegak hukum, Presiden Joko Widodo (Jokowi)
menegaskan bahwa pemerintahan terus mendukung pemberantasan korupsi dan
penguatan Komisi Pemberantan Korupsi (KPK).
“Saya rasa tidak usah bolak-balik saya sampaikan bahwa kita mendukung penguatan KPK,” kata Presiden Jokowi.
Konkret saja, Presiden mengemukakan sebentar lagi dirinya akan
mengeluarkan perpres (peraturan presiden) atau inpres (instruksi
presiden) untuk sisi pencegahan.
Yang paling pentingnya, menurut Presiden, intinya adalah agar semua
kementerian atau lembaga dan pemerintah daerah harus menyiapkan
e-budgeting, e-planning dan
e-procurement.
Aturan itu sejalan dengan rekomendasi KPK untuk melakukan perbaikan
sistem pada kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang mendapat
“menu wajib” di tiga sektor yaitu pengelolaan Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah (APBD), pengadaan barang dan jasa (PBJ) dan layanan
publik yang diterapkan melalui
e-planning dan
e-budgetingatau
e-government, pendirian Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang mandiri, serta pendirian Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
“Itu untuk pencegahan, tapi mengenai penindakan hukum ya silakan mau
OTT (Operasi Tangkap Tangan), ada KPK, Saber Pungli sudah kita bentuk,”
tambah Presiden.
Masih Jadi PR
Diakui Presiden Jokowi, bahwa korupsi masih menjadi pekerjaan rumah
(PR) pemerintahan yang sudah hampir memasuki tahun keempat pada 20
Oktober 2017 ini. Karena itu, menurut Presiden, penegakan hukuram harus
lebih dipertegas.
“Bahwa korupsi ini masih menjadi musuh terbesar kita ya memang
pekerjaan besar kita bersama untuk menyelesaikan. Saya kira penegakan
hukum harus lebih dipertegas, Saber Pungli juga, hal kecil-kecil juga
kita awasi,” ungkap Presiden.
Sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan, bahwa yang namanya
pemberantasan korupsi pasti ada rakyat semuanya senang tapi kan ada juga
yang tidak suka, dan itu merupakan pekerjaan kita bersama. Tidak
mungkin kita sendiri-sendiri bekerja menyelesaikan ini.
Ia menyebutkan, untuk memberantas korupsi, mental antikorupsi harus
dikenalkan sejak dini, kepada anak-anak, sambung Presiden. “Kalau kita
tidak memulainya dari anak-anak, generasi berikutnya ya tidak akan ada
pembaruan apa-apa,” ujarnya.
PANDUAN LULUS CPNS